Lebak – Dibangunnya jalur pejalan kaki atau trotoar dan sauran drainase di Jalan Sunan Kalijaga Rangkasbitung, Banten memoles warna baru bagi estetik wajah Pasar Rangkasbitung.
Kawasan itu oleh pemerintah setempat kabarnya akan disulap menjadi pusat wisata kuliner ala Malioboro Yogyakarta. Meski demikian, kawasan Sunan Kalijaga diketahui memiliki jejak “warna kusam” estetika kota di wilayah itu.
Sebelum dilakukan penataan oleh pemerintah setempat, kawasan itu sangat kumuh oleh aktifitas Pedagang Kaki Lima (PKL). Di kawasan jalan itu jadi pusat perdagangan yang biasa disebut pasar subuh.
Pemerintah setempat kemudian melakukan penataan, melakukan relokasi pedagang secara bertahap ke pasar Semi PKL Kandang Sapi, berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan Sunan Kalijaga.
Setelah selesai dilakukan penataan dengan fasilitas trotoar. Kawasan itu rencananya akan dijadikan sebagai pusat publik terbuka dengan konsep ala Malioboro.
Terkait rencana itu, pihak Dishub jauh-jauh hari sudah memikirkan soal rekayasa jalan. Hal itu agar fungsi utama jalan tetap pada semestinya.
Kepala Seksi Manajemen Rekayasa dan Pengawasan Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Lebak, Cecep Hunaepi, mengatakan kondisi jalan setelah penataan perlu diikuti dengan rekayasa lalu lintas yang sesuai.
“Tata cara parkirnya bagaimana kemudian apakah masih tetap ideal dua jalur kendaraan atau harus diberlakukan satu,” kata Cecep kepada wartawan, pada Rabu, (21/10/2026).
Meski begitu, ujar dia, pembahasan mengenai pola lalu lintas dan parkir akan dilakukan setelah pekerjaan fisik selesai. Salah satu opsi yang menurutnya layak dipertimbangkan adalah penerapan satu jalur untuk mengurai kepadatan kendaraan.
“Harapan kami menjadi satu jalur saja ya karena melihat volume kendaraan yang setiap hari melintas. Tetapi nanti akan ada pembahasan dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Sementara di salah satu tembok Jalan Sunan Kalijaga kembali mengingatkan pada sebuah mural. Kondisi mural yang dibuat menggunakan dana CSR itu, saat ini sudah memprihatinkan.
Jejak-jejak estetika itu mulai pudar dan tak terawat. Warna-warna cerah yang dulunya mencuri perhatian para pengguna jalan kini meranggas, terkikis oleh panas, hujan, dan polusi kendaraan yang lewat setiap hari.
Guratan cat yang dulunya tegas kini mulai mengelupas. Beberapa bagian dinding bahkan tertutup oleh coretan vandalisme tak bertanggung jawab atau tertutup debu jalanan yang tebal. Ruang ekspresi yang dulunya dipuji sebagai bentuk urban art penata kota, kini tampak seperti sudut yang terlupakan.
Bagi masyarakat sekitar dan penikmat seni urban, pudarnya mural ini bukan sekadar hilangnya warna di atas semen, melainkan hilangnya sebuah identitas visual kota.(*)
Tidak ada komentar