Manfaat ‘Rumpun Bambu’ Dibalik Sejarah Nama Kota Rangkasbitung

waktu baca 2 menit
Minggu, 25 Okt 2026 00:15 0 57 Aji Permana

Lebak – Kota Rangkasbitung merupakan ibu kota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kota yang letaknya tak jauh dari Ibukota Jakarta ini, sekarang sudah semakin maju dan modern tak kalah saing dengan beberapa kota maju lainnya di Indonesia.

Namun, di balik kemajuannya saat ini. Ternyata kota Rangkasbitung menyimpan makna sejarah yang amat penting untuk diketahui.

Melansir dari berbagai sumber, Minggu, (25/10/2026), arti dari nama Rangkasbitung merupakan dua buah kata yang memiliki arti yang berbeda. Kata ‘Rangkas’ berarti Patah, dan ‘Bitung’ memiliki arti satu rumpun bambu. Kemudian terciptalah nama Rangkasbitung. Di mana sampai saat ini penyebutan itu masih dipakai oleh masyarakat lokal bahkan dikenal hingga luar daerah.

Manfaat Rumpun Bambu dan Kepercayaan Warga Lokal

Konon pada zaman dahulu, tumbuhlah rumpun bambu yang sangat besar. Para masyarakat menyebutnya, dengan nama Awi Bitung (Bambu Bitung).

Kemudian Awi Bitung tersebut dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai mata pencaharian oleh masyarakat dan diolah menjadi, bahan anyaman, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Karena merasa bermanfaat untuk masyarakat. Kemudian masyarakat pun mulai mengkramatkan awi/bambu tersebut. Mereka mulai menyembah dan memberikan sesajen kepada Awi Bitung tersebut.

Kemudian, pada suatu hari datanglah seorang ulama ke daerah Awi Bitung. Ia merasa kaget melihat para penduduk menyembah serumpun bambu. Ulama tersebut menasihati mereka agar jangan melakukan hal tersebut karena merupakan tindakan musyrik. Lalu, ia mengajarkan bahwa hanya Allah SWT lah yang wajib untuk disembah.

Tak terima dengan nasihat ulama tersebut, masyarakat pun malah mengusirnya dengan sangat kasar.  Kemudian ulama itu pergi meninggalkan masyarakat di daerah tersebut.

Setelah kepergian ulama itu, tiba tiba muncul suara gemuruh dari atas langit disertai angin kencang yang  mematahkan ‘Awi Bitung’ (Bambu yang menjadi kepercayaan warga lokal) hingga merobohkan seluruh rumah di daerah itu. Akibat terpaan angin yang sangat kencang banyak masyarakat setempat yang tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Tak tega melihat situasi dan kondisi masyarakat di daerah itu. Akhirnya, ulama itu pun mulai membangun kembali daerah itu dan juga mendirikan pesantren untuk mengajarkan Agama kepada masyarakat setempat, agar perilaku musyrik yang seperti menyembah Awi Bitung tak terulang kembali.

Agar mengingat peristiwa tersebut maka kampung itu dinamakan Rangkasbitung. Oleh karenanya dalam peristiwa yang terjadi itu merupakan sebuah pelajaran terhadap masyarakat agar selalu mengingat dan kembali ke jalan Allah, dan jangan pernah menyembah selain kepada Allah.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA