Esensi “Cara Kembang Berpikir” dalam Jurnalisme

waktu baca 3 menit
Kamis, 22 Okt 2026 09:07 0 106 Galuh Malpiana


JUJUR
saja, kapan terakhir kali kamu baca berita dan merasa benar-benar tercerahkan, bukan malah makin pusing atau kesal? Di zaman sekarang, kita dibombardir informasi setiap detik. Buka media sosial sedikit, isinya berita breaking news semua. Sayangnya, banyak berita yang cuma kejar tayang dan menyentuh permukaan saja. Kita kenyang info, tapi lapar makna.

Di sinilah dunia jurnalisme butuh yang namanya “cara kembang berpikir” alias growth mindset. Maksudnya, jurnalisme itu harus fleksibel, mau terus belajar, dan gak kaku. Tujuannya satu: biar gak cuma bagi-bagi info mentah, tapi juga bisa ngasih “hikmah” atau pelajaran penting di balik sebuah peristiwa.

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih cara berpikir yang terus berkembang ini penting banget buat dunia pers sekarang?

Gak Cuma Nyari Clickbait

Ada beberapa alasan kenapa pola pikir ini bisa jadi penyelamat kualitas berita kita:

  • Bukan Cuma Tanya “Ada Apa?”: Jurnalisme lama sering kali puas kalau sudah tahu siapa, apa, dan di mana kejadiannya. Tapi kalau pakai cara kembang berpikir, jurnalis bakal penasaran dengan kenapa ini bisa terjadi dan gimana solusinya buat ke depan.
  • Gak Gampang Main Hakim Sendiri: Dunia ini gak cuma hitam dan putih. Dengan pikiran yang terbuka, jurnalis gak bakal gampang nge-hakimi satu pihak atau bikin berita yang memecah belah masyarakat.
  • Berani Ngaku Salah: Namanya juga manusia, jurnalis juga bisa keliru. Pola pikir yang sehat bikin jurnalis atau media gak gengsi buat meralat info kalau memang ada fakta baru yang lebih benar.

Nyari Hikmah, Bukan Khotbah

Ngomongin soal “hikmah” di dalam berita bukan berarti jurnalisme berubah jadi ruang khotbah atau ceramah agama, ya. Hikmah di sini artinya jurnalisme yang solutif.

Contoh gampangnya begini: waktu ada berita bencana atau krisis ekonomi, media yang cuma cari views biasanya bakal fokus mengeksploitasi kesedihan atau kepanikan biar viral. Tapi, media yang punya cara kembang berpikir bakal beda. Mereka bakal bahas kenapa sistem mitigasinya gagal, gimana cara bantu korban, dan apa yang bisa kita pelajari agar kejadian serupa gak terulang lagi. Beritanya jadi bikin kita pintar, bukan bikin kita cemas.

Tantangan Generasi “Serba Instan”

Memang gak mudah menerapkan ini sekarang. Jurnalis zaman sekarang dikejar oleh algoritma, jumlah clicks, dan kecepatan. Tapi kalau media terus-terusan menyajikan berita instan yang gak ada isinya, lama-lama publik bakal bosan dan gak percaya lagi sama media arus utama.

Yuk, saatnya ruang redaksi kita mulai berbenah. Kita butuh jurnalis yang gak cuma kerja demi ngejar deadline, tapi juga peduli sama dampak tulisan mereka ke pembaca. Mengembangkan cara berpikir dan selalu mencari pelajaran berharga dari setiap peristiwa adalah jalan ninja agar jurnalisme kita tetap keren, relevan, dan dihargai.(*)

Galuh Malpiana

Galuh Malpiana

Jika semesta itu informasi. Maka menulislah untuk kebijaksanaan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA